Karawang || Rakyatbersuara.my.id || Setelah menjadi sorotan masyarakat dalam beberapa waktu terakhir, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Citra Mandiri akhirnya memaparkan laporan neraca keuangan dan laporan laba rugi unit-unit usahanya dalam Musyawarah Desa (Musdes) yang digelar Pemerintah Desa Cikampek Utara, Kecamatan Kotabaru, Rabu (24/6/2026).
Forum yang dihadiri Kepala Desa, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), perangkat desa, tokoh masyarakat, dan tokoh agama tersebut, menjadi perhatian publik. Karena diduga selama dua tahun terakhir belum pernah digelar Musdes khusus yang membahas kondisi keuangan BUMDes secara terbuka.
Dalam pemaparan tersebut, muncul penjelasan terkait angka kerugian yang selama ini menjadi perbincangan di tengah masyarakat.
Direktur BUMDes Citra Mandiri, Syaripudin membantah anggapan bahwa kerugian yang tercatat dalam laporan keuangan menunjukkan usaha yang dikelolanya berada di ambang kebangkrutan.
Menurut dia, dana yang selama ini dianggap sebagai kerugian sebenarnya digunakan untuk pengadaan aset serta pemenuhan sarana dan prasarana kantor BUMDes sebagai bagian dari kebutuhan usaha yang masih berada pada tahap pengembangan.
“Kerugian itu bukan berarti usaha mengalami kebangkrutan. Dana tersebut digunakan untuk pengadaan aset dan kebutuhan sarana-prasarana kantor BUMDes karena usaha ini masih dalam tahap perintisan,” kata Syaripudin saat dikonfirmasi usai Musdes.
Dia menegaskan bahwa unit usaha yang dijalankan BUMDes, mulai dari kerja sama bagi hasil jaringan WiFi hingga peternakan ayam petelur, masih menghasilkan pendapatan. Hal itu, menurutnya, dibuktikan dengan adanya Sisa Hasil Usaha (SHU) setelah dikurangi biaya operasional.
“Usaha yang kami jalankan masih memberikan keuntungan karena terdapat sisa hasil usaha yang merupakan pendapatan bersih setelah dikurangi biaya operasional,” ujarnya.
Meski demikian, sejumlah warga disebut masih menaruh perhatian terhadap kondisi usaha peternakan ayam petelur yang menjadi salah satu unit usaha utama BUMDes. Dalam pemaparannya, Syaripudin mengakui jumlah ternak mengalami penurunan dari sekitar 1.000 ekor menjadi 820 ekor.
Dia menjelaskan penurunan tersebut terjadi pada masa awal pengembangan usaha yang bertepatan dengan cuaca ekstrem sehingga berdampak pada produktivitas dan keberlangsungan ternak.
Di tengah munculnya berbagai pertanyaan terkait kinerja dan pengelolaan keuangan BUMDes, Musdes kali ini menjadi momentum bagi pengurus untuk menyampaikan kondisi usaha secara langsung kepada masyarakat.
Syaripudin juga menepis anggapan bahwa laporan keuangan tidak pernah disampaikan. Menurutnya, perkembangan usaha dan laporan keuangan BUMDes selama ini tetap dilaporkan melalui forum Minggon Desa maupun Musdes.
“Baik di saat acara Minggon Desa maupun Musdes itu sendiri,” katanya.
Meski penjelasan telah disampaikan dalam forum resmi desa, pelaksanaan Musdes tersebut menunjukkan masih tingginya perhatian masyarakat terhadap transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana serta unit usaha BUMDes.
Ke depan, keterbukaan informasi dan penyampaian laporan secara berkala dinilai menjadi faktor penting untuk menjaga kepercayaan publik terhadap keberadaan badan usaha milik desa tersebut.
(Dbrong)

